Follow me on Twitter RSS FEED

Bahaya Membawa Bahagia

Posted in By vika valianty 0 comments

“Apa kamu,,! Anak kecil, anak ingusan, masih bau kencur aja sudah bawel!!” makian kakakku selalu menyambutku.
Sejak kecil aku tidak pernah mengenal kedamaian dengan kakakku. Aku tidak pernah merasakan yang disebut dengan kasih sayang seorang kakak. Tidak pernah merasakan rangkulan, pangkuan, dan belaian dari kakakku. Sesungguhnya aku menyayangi kakakku, namun perlakuannya yang demikian menyakitkan membuatku merasa bahwa rasa sayang itu pudar entah kemana. Hubungan kami semakin hari semakin memburuk. Sangat berbeda dengan kisah-kisah kami di masa-masa kecil kami.
“Koko jahat!! Aku nggak mau ngomong sama koko lagi! Koko nggak pernah sayang sama aku!” demikian aku berteriak kian keras hingga orang tuaku terbangun.
“Ada apa sih, Vita..?? Kamu teriak-teriak bikin orang kaget aja.. Kenapa koko kamu..?” teriakan mami berasal dari dalam kamar terdengar begitu dahsyat. Aku menjawab teriakan itu dengan tangisan. Sedangkan kakakku langsung pergi meninggalkan aku dengan kesal dan mesuk ke kamarnya.
“Dasar anak kecil..! Bikin ribut aja kerjanya..,” gerutunya ketika berjalan meninggalkanku. Tangisanku semakin meraung-raung. Akhirnya papi keluar kamar dengan penampilan yang cukup kurang enak dipandang karena sangat berantakan. Maklum, dia sedang tidur dan dikejutkan dengan raunganku.
“Kamu kenapa Vita? Kenapa teriak-teriak begitu?” suara lembut papi membuat aku luluh dan tangisanku melembut. Tapi aku tidak bisa menghentikan keinginan untuk menangis, sehingga aku tidak bisa menjawab pertanyaan papi. Kemudian papi menarik tubuhku ke dalam rangkulannya. Itu tidak membuatku tenang dan berhenti menangis, tapi sebaliknya, tangisanku semakin pecah, namun tidak meraung-raung seperti sebelumnya. Karena tidak mengerti apa yang terjadi, akhirnya papi memanggil kakakku yang masih merasa dongkol kepadaku.
“Alfonn.. Ke sini sebentar..,” papi memanggil kakakku, namun dia tak kunjung datang. Ada dua kemungkinan. Pertama, dia tertidur karena terlalu kesal. Kedua, dia pura-pura tidak mendengar. Entahlah apakah dugaanku benar atau salah, aku tidak mengerti.

***

kini kau berubah
tidak seperti dulu lagi
dahulu kau ceria
sekarang penuh benci

entahlah semua ini terjadi
putaran waktu yang kian cepat
menyambar dirimu pergi
meninggalkan aku tanpa hangat
ingin kumaki dunia
ingin kumaki alam
ingin kumaki waktu
ingin kumaki diriku sendiri

mengapa harus aku
mengapa bukan dia
mengapa bukan mereka
karena aku sungguh menyayangimu

apa yang terjadi
entah aku tak tahu
apa yang terpungkiri
entah tak kusadari semua itu

aku tak peduli
apa yang kau lakukan padaku
tapi aku tetap berpegang pada hati
bahwa aku menyayangimu
03.10.08


Kakakku yang kini berubah, membuat aku begitu tersayat. Kukenang kisah-kisah di masa kecil kami yang penuh dengan tawa dan canda. Masih melekat dibenakku bagaimana dia erat merangkul aku dan membelaiku dengan segala kehangatannya. Namun kini harapan untuk mendapatkan semua itu telah pupus. Di dalam rangkulan papi aku menangis hingga aku lelah dan akhirnya aku tertidur. Hingga saat itu juga panggilan papi diabaikan oleh Alfon, kakakku.
Sebangunnya dari tidurku yang cukup melelapkan, aku mendapati diriku seorang diri di rumah.
“Mamii.. Papii.. Koko..” Suasana begitu hening. Tak kudengar satu patah katapun dari seluruh penjuru rumah. Aku memanggil dan terus memanggil.. Namun tak membuahkan hasil apapun. Aku mulai putus asa dan air mata menetes begitu saja tanpa kusadari. Kemanakah mereka semua pergi? Mengapa mereka meninggalkan aku sendiri? Apakah mereka semua telah membenciku? Kian berjuta pertanyaan berkecamuk dalam benak dan aku tak saunggup untuk menjawabnya satu per satu, Aku hanya bisa menangis karena kesendirianku.
“Kamu kenapa nangis lagi?” suara mami begitu mengejutkan aku dan menyadarkan aku dari tangisku.
“Mami? Kok tiba-tiba mami ada di sini?”
“Lho.. Emang daritadi mami kemana? Mami nggak kemana-mana kok..”
“Oohh..” Perasaanku cukup lega, namun ada satu hal yang masih mengganjal di hati. Suatu perasaan sedih dan takut. Kakakku, Alfon.. Masihkah ada harapan untukku dapatkan kasih sayang dari seorang kakak? Akankah dia membenciku selamanya? Tak ada yang mengerti, haluan nafasku pun tidak. Kian semuanya itu menjadi tanda tanya besar di benakku dan menjadi dilema dalam hati. Entahlah, aku lelah memikirkannya.
Hari-hari kujalani seperti sepatutnya. Jika tidak ada kepentingan yang mendesak, aku tidak berbicara kepada Ko Alfon. Kalaupun berbicara, hanya sekedarnya dan dia pun menanggapinya dengan acuh tak acuh. Setelah pembicaraan seperlunya itu selesai, kami diam, tidak mengeluarkan satu patah katapun. Terkadang, kami saling meninggalkan satu sama lain.

***

Suatu ketika di musim panas, kami sekeluarga berlibur ke gunung. Kami mendaki gunung hingga sampai ke puncaknya, karena di atas sana terdapat air terjun yang begitu indah. Karena aku anak paling kecil, maka aku berjalan paling belakang, aku tertinggal oleh mereka karena langkah kaki papi, mami, dan Ko Alfon jauh lebih besar dariku. Dengan susah payah aku berusaha menyamai langkah mereka, namun aku tak sanggup. Kelelahan membuat aku semakin tertinggal jauh dan akhirnya aku kehilangan jejak mereka. Aku sendiri di sini. Tidakkah seorang pun menyadari ketidakberadaanku di antara mereka? Masakan aku tertinggal dan tidak ada yang tahu? Aku tidak membawa apa-apa, kecuali sebuah tas ransel kecil yang berisi bantal kesayanganku dan sehelai selimut, sebotol air juga tentunya. Tidak ada makanan.. Bagaimana kalau mereka terserang amnesia sementara sehingga mereka melupakan aku sampai mereka tiba kembali di rumah? Haruskah aku hidup sendiri di tubuh gunung yang gelap dan luas ini? Oohh.. Aku tidak bisa membayangkannya.
Duduk termenung. Hanya itu yang bisa kulakukan. Mengapa? Karena aku telah kehilangan jejak dan tidak tahu kemana arah mereka pergi. Hari semakin gelap dan aku mulai cemas. Udara mulai terasa dingin dengan kabut mulai keluar dari sarangnya menyeimuti pandanganku. Tak ada satupun dapat kulihat kecuali tanganku sendiri. Kemana mereka semua pergi? Ke puncak gunung tentunya..
Aku ingin sekali ke atas sana, namun tak cukup kekuatanku tuk melakukannya. Akhirnya aku tertidur. Lelap sekali..

***

“Raaaarrwwrrrr..” Auman harimau begitu besar dan tiada hentinya.
“Aauuuuu..” Disambung dengan lolongan serigala yang tidak kalah kerasnya. Guntur menggelegar dan suasana di badan gunung semakin menegangkan. Sampai saat ini aku masih sendirian, dan kini dalam keadaan tidak berkutik di tengah keadaan dimana datang segala jenis hewan buas menghampiriku, mengepungku, dari segala arah.. Apa yang harus kulakukan. Aku hanya bisa memasrahkan diri.
“Aku mati sia-sia hanya karena terkepung hewan buas?? Lucu sekali..” Aku bergumam sendiri. Kucari seribu satu cara untuk menghindari semua yang menyerangku. Kupanjat pohon yang ada di belakangku. Ini adalah pertama kali dalam hidup aku memanjat pohon dan aku berhasil. Ketika akan sampai pada cabang pohon kedua dari bawah, seketika muncul seekor ular yang akan melilit tangan kiriku. Spontan kulepaskan genggaman tanga kiriku untuk menghindari ular tersebut. Kini tinggal satu tangan kanan yang menjadi harapanku untuk bergantungan di pohon. Kutengok ke bawah dan begitu banyak mulut-mulut lapar menganga. Apa yang harus kulakukan sekarang? Di ujung pohon sana terdapat rumah pohon yang cukup besar. Entahlah ada yang menempatinya atau tidak, namun yang sekarang muncul di benakku adalah aku harus mencapainya.
Sejujurnya aku takut.. Aku takut dengan keadaan ini. Keadaan yang cukup membahayakan dan harus kuhadapi seorang diri. Dengan segala susah payah dan peluhku, aku dapat mencapai rumah pohon itu. Kubuka pintu rumah itu, tanpa seijin siapapun tentunya, dan satu kata untuk mendeskripsikan apa yang kulihat. GELAP.. Aku tidak dapat melihat apapun. Kucoba untuk memasukinya dan kuraba apa yang bisa kupegang dan kutemukan lentera berisi minyak. Setelah lentera itu menyala, aku dapat melihat apa yang ada di dalamnya. NIHIL.. Tidak ada apa-apa..
Duduk termenung dan teringat akan keluargaku yang entah kemana.. Entah dimana.. Sungguh menyedihkan. Mami, Papi, Ko Alfon. Tidakkah kalian mencariku? Mengingat aku? Di tengah lamunanku tiba-tiba.. WUUUUUSHHH... Angin bertiup sangat kencang hingga mengguncangkan rumah pohon tempat aku berteduh. Akankah ada badai di sini? Berbagai ketakutan menyelimutiku. Aku sendiri dan aku tidak berdaya, tidak mempunyai apapun. Hanya sebuah tas berisi bantal, selimut, dan botol minumku. Akhirnya kuputuskan untuk tidur saja.
“Vita.. Vita..” sebuah suara memanggilku dan aku mengenal suara itu.
“Vita.. Kamu nggak apa-apa?” suara lain yang sama familiarnya dengan suara pertama.
“Vitaa.. Ya ampunn.. Ternyata kamu ada di sini. Kita cemas mencarimu..” Aku juga mengenal suara ketiga yang berbeda dengan suara pertama dan kedua. Perlahan kubuka mataku dan mendapati tiga sosok yang amat kurindukan.
“Mami.. Papi.. Ko Alfon.. Mana serigalanya? Mana harimaunya? Aku takut.. Mereka udah nggak ada kan?”
“Vita.. Kamu mimpi apa? Nggak ada serigala, harimau, dan hewan-hewan lain di sini.. Ini gunung, sayang.. Bukan hutan..” Kata mami lembut sambil merangkulku.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Ko Alfon penasaran.
“Aku juga nggak tahu.. Tadi aku ketinggalan, tiba-tiba kalian menghilang dan aku nggak tahu harus jalan kemana.. Jadi aku diam aja di sini dan akhirnya aku ketiduran,” jawabku yang masih ketakutan. Wajahku pucat, peluh bercucuran, dan aku sangat lelah.
“Kalian abis darimana?” tanyaku setengah lemah.
“Kita cari kamu daritadi, kita udah keliling gunung dan ternyata kamu ada di sini..” jawab Ko Alfon.
“Ternyata Ko Alfon mau mencariku,” batinku.. terselip rasa senang dan terharu, karena keluargaku mau mencariku. Tentu saja. Mana mungkin ada orang tua yang bersenang-senang, sedangkan anak perempuannya yang masih berumur 5 tahun hilang entah kemana.
Kemudian papi menggendongku dan membawaku turun gunung. Aku merasa nyaman sekali berada di gendongan papi. Aku merasa lapar, kedinginan, lelah, lemas, dan masih banyak lagi perasaan-perasaan yang berkecamuk dalam diriku.
Sepulangnya di rumah, aku tidak berbuat apa-apa lagi dan langsung beranjak ke tempat tidur.

***

“Nih makan..” Dengan lemah aku mulai duduk dan Ko Alfon menyuapi bubur ayam buatan mami. Sikapnya agak berbeda. Sedikit lebih baik, namun masih dingin. Aku tidak peduli, yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana aku bisa sembuh.
Demamku lumayan tinggi dan kepalaku sakit sekali. Badanku lemas, aku tidak berdaya. Aku tidak seperkasa diriku dalam mimpi kemarin. Bisa menghindari harimau dan serigala, melawan ular, memanjat pohon hingga sampai ke rmah pohon di puncaknya. Namun sekarang, duduk saja mungkin tidak sanggup.
“Mandi dulu sana..”
“Tapi aku lemes..” Ko Alfon menjadi sedikit perhatian kepadaku, meskipun nadanya masih dingin. Dia menggendongku ke kamar mandi dan membantuku mandi.
“Ko.. Dingin..”
“Nih handuk..” Setelah memakai handuk, dia menggendongku kembali ke kamar.
Seminggu setelah sakit yang cukup parah, keadaanku jauh lebih baik. Aku mulai mendapatkan kekuatanku kembali. Aku pikir, setelah sembuh, Ko Alfon akan kembali seperti dulu. Cuek, dingin, tidak peduli terhadapku. Namun kenyataannya tidak. Dia memang tidak begitu hangat kepadaku, namun tatapan mata dinginnya sudah musnah, menjadi lebih perhatian kepadaku, meski hanya sedikit. Tanpa kusadari tersisip rasa haru dan bahagia dalam hatiku. Inikah yang disebut sebagai kasih sayang seorang kakak? Aku telah merasakannya.
“Fonn, kamu bliin mami gula dong di warung,” teriakan mami memecah lamunanku. “Sekalian ajak Vita aja, biar dia ngga bosan di rumah, ajak dia jalan-jalan,” sambung mami.
“Iya ma..” Jawaban Ko Alfon cukup mencengangkan aku.
“Waaa.. Asyiikk.. Jalan-jalan..” Spontan aku berteriak dan mengejutkan orang-orang di sekitarku.
“Ayo..” ajak Ko Alfon sambil menarik tanganku. Aku segera bergegas keluar rumah dan naik ke sepeda Ko Alfon. Ko Alfon mengendarai sepeda dengan kecepatan cukup tinggi dan aku menikmati terpaan angin di wajahku yang mengibarkan helaian rambutku yang panjang. Tiba-tiba.. DUAAKK.. Aku tak sadarkan diri selama beberapa menit. Ketika aku membuka mata, yang dapat kulihat hanyalah hamparan biru yang sangat luas, langit.. Aku berusaha untuk berdiri dan perlahan berjalan ke tepi jalan. Seketika mobil Panther merah dari arah depan melaju dengan kecepatan tinggi melewati jalan tempat aku tak sadarkan diri. Beruntung aku sudah berhasil berdiri dan aku telah berada di tepi jalan. Kalau tidak, mungkin sekarang aku pulang tanpa nyawa dan hanya menyisakan nama. Panther itu berlalu begitu cepat diiringi perasaan kagetku.
Kupandang wajah Ko Alfon di depanku. Dia hanya diam, tapi di matanya terpancar rasa bersalah yang begitu mendalam. Sandal yang kupakai rusak, kepalaku benjol cukup parah, siku lengan kiriku berdarah, sakit sekali. Ko Alfon menuntunku ke sepeda dan membantuku naik ke atas sepeda. Kemudian dia membeli gula pesanan mami dan membawaku pulang.
“Ya ampuunn.. Vita.. Kamu kenapa lagi?” mami terlihat begitu histeris.
“Vita jatuh ma, aku nggak hati-hati.”
“Kamu gimana sih, bawa sepeda hati-hati dong, apalagi kalau bawa adik kamu.”
“Maaf ma..”
“Ya sudah sekarang kamu urusin itu lukanya Vita..”
“Iya ma..”
Kemudian Ko Alfon mengambil alkohol, kapas, dan betadine. Dia membersihkan lukaku yang cukup kotor itu dengan alkohol. Karena cukup banyak kotoran yang ada di lukaku, dia menyiramkan alkohol dan membuatku menjerit-jerit kesakitan. Tapi Ko Alfon diam saja. Biasanya dia akan menyuruhku diam jika aku menjerit-jerit, tidak peduli dalam keadaan apapun. Kali ini dia diam tanpa kata. Setelah itu dia meneteskan betadine ke atas lukaku dan menutupnya dengan kassa. Ko Alfon melakukan ini setiap hari. Setelah mandi lukaku dibersihkan, diberi obat, dan menutupnya dengan kassa.
Sejak saat itu, sikap Ko Alfon kepadaku berubah. Ia tidak dingin, ia tidak cuek, ia tidak kasar kepadaku. Ia menjadi hangat, ia mejadi perhatian, dan bersikap lembut kepadaku. Tentu saja aku merasa senang, namun aku tidak menunjukkan apa yang kurasakan. Kupendam semua itu dalam hati. Kudapati secarik kertas di atas tempat tidurku, bertuliskan.. “Ko Alfon sayang Vita..” Tanpa kusadari aku meneteskan air mata. Ternyata harapan untuk mendapatkan kembali kasih sayang seorang kakak masih ada. Harapan itu terkubur dalam.. Sangat dalam dan kini tergali kembali. Harapan itu terbit kembali, bagai mentari yang terbit di ufuk timur, menyinari sang fajar.
Tiba-tiba Ko Alfon masuk ke kamarku. Dia merangkulku dan berkata, “Ko Alfon sayang kamu, Vita..” Aku menangis dan berbalik memeluknya.


.vika.

geje.

Posted in By vika valianty 0 comments

tiap kli mo nulis kok males yaa??ehehe. liburan uda mo abiss nii.. bentar agy msuk skola agaiinn..huh..
so..apa yang uda kulakukan slama liburan niii??

ga ada yg pnting..
1 pacaran
2 jalan-jalan
3 shopping
4 online
5 main game
6 tidur
7 makan
aaa.. dan sterusnyaa.

aduuh.crita na nti aja de..agy seru main game..aahaha.daaa..

GOSPEL agaaiinn!!

Posted in By vika valianty 0 comments

tentang GOSPEL..

so.. last week. uda disepakati bahwa hanya ada 1 editor untuk buletin GOSPEL. nahh. calonnya ada dua. who?? jeannette and i.. hehehe. pengen si bo. jadi editor. and then. mr suryo as our journalistic teachaaa.. kasi kita tugas. merangkum berita.. !! okeii . sudah saia kerjakan. jeannette juga uda ngerjain. pas dikumpul dan dipriksa. tiap kerjaan puna kekurangan dan kelebihan. dan mr suryo confuse confuse milihnya. dia bilang dua duanya bagus.

"sebernarnya saya ingin mengangkat kalian berdua menjadi editor.. tapi kasihan yang bikin artikel cuma sendiri," begitulah kalimat yang dihaturkan bapak suryo..

ehehehe. gmna toh?? bingung sndiri dia. akhirnya dia suru kita berdua jadi editor buat edisi pertama dan liburan ini kita dikasi tugas lagi..
apa ituu??

MEMBUAT ARTIKEL TENTANG : LEBARAN.. ATAU DAMPAK LIBURAN BAGI SISWA.
you can choose..
and i choose the second one. tapi blum saya bikin..
jangan sampe nanti dia bingung lagi. ehehe. aku si gpp klo emang harus bkin artikel mskipun PENASARAN ama kerjaan editor. ehehe. seru aja, tapi emang hobi nulis jadi klo di kasi kerjaan apapun yaa.. tetep enjoy kokss.

so.. buat mr suryo.. don't be confuse lhaa klo you choose choose editorr.. ehehe. ga pake grammar jadi kliatan oon iaahh.. ahaha.

buat jeannette.. we fight together iaahh..
aduu berharap banget de. sukses buat GOSPEL yang satu ini. soalnya dulu kn MATRIX gagal gtu. cuma kluar brapa edisi.. trus ngek ngok ilang ditelan bumii.. hoho. klo GOSPEL sukses.. aku pngen dan aku berdoa.. supaya dari buletin isa jadi majalah. amiieenn. ehehe.
sebelum lulus SMA dee.. senggaknya ada hasil yang isa ditinggalin sbeleum aku lulus SMA, soalnya ekskul jurnal kurang nonjol si iah.. padahal bnyak yg berpotensii.. ehehe. trus kn biar dikenang.. angkatan 2008/2011 berhasil membuat majalah yang berjudul GOSPEL.. tinggal satu stengah taun lagi saya di SMA ini. taun dpan pindah uph college gatau de ada ekskul gini agy ato ga.. huee.. ga tau akh. bingung. :)

.vika.

seputar liburan..

Posted in By vika valianty 0 comments

liburan ini tekadnya mau blajarr..tpi sampe skarang kok ga ksampean iaahh?? huehe. padahal ga ada kerjaan. ehh.. ada deh. spertii: fsika, renungan harian yg sharusna uda dikumpul dari kapan taun. ehehe. lupa bikin miss. maap. bi yg juga uda hrus dikumpul dari kapan abad. btw. yang ttg bi iniii. kn tugasnya wawancara. kita pertama uda janjian pngen wawancarain putra nababan. lagi ngefans tergila gila waktu itu. trus ketunda tunda akhirna males. trus gnti topik jadi konflik malaysia indonesia. trus yang ktemu robert ama jeef. yauda kita wawancarain mereka. padahal pertama rencanainnya model model kyak biaga.. andra.. yg kocak".. ehehe. tpi ga ktemu. jadi males. sabot aja yang di depan mata. stelah dilakukan beberapa kli CUT..! karna robert ktawa" dan aku yang jdi presenter juga rada cacat (ngomong sambil sneyum" ga jlas, gara" robert tuu.eheheh). akhirnya bel masuk bunyi dan saatnya ulangan PKN.. aku cuma acak"in rambut dapet 80 ..ahahaha. ternyata aku ga bego bego amat soal politik.

okeii. back to topic.. hmm. apa iah tadi?? lupa. oitaahh.. wawancara.
lanjut.. haduu. jadi lupa tadi mo ngomong apa. intinya sampe skarang tugas wawancara saia dan kelompok saia blum dikumpul dan satu klas saia tidak ada yang mengumpulkaann..!! yeheheehe.

seputar liburan 2 mingguu..
liburan ini aku mo diajarin nyetir mobil lhoo ama papi.. ^^ asiikk. ehehe.. seneng dee. trus aku rencana mo bkin kue ama temen. bikin scrapbook.. aaa!! seruu bgd. *kapan blajar na??* ehehe. pasti blajar kok, tnang ajaa.

pngen upload video wawancaranya. tpi knapa ga bisa iaah??huhu T.T

.vika.

setelah aku ujiann..

Posted in By vika valianty 0 comments

stelah 3 minggu saya ujiann mid.. akhirnya selesaii jugaa^^

and now i can say hello to my blog.. ga keuruss. haha.^^ maaf ya blog kuu. nahh. postingan kli ini aku bakal cerita tentang kisah dua hari lalu. dua malam lalu tepatnya. so.. this is the story.

dua malam lalu.. aku bergadang (bukan berdagang ..hehe) KENAPA AKU BERGADANG?? karena ngerjain tugas sejarah yaaanngg ng..ng..ng.. BANYAK BANGET.. merangkum bab 1.. 61 halaman.. haiihh.. sbenernya tugas ini uda di kasih dari sebulan lalu.. tapi.aku malass.. dan banyak tugas lain lain yang juga keteteran. sepertii.. biologi.bahasa indonesia. tiap kli mo wawancara adaaa aja halangannya. pernah wawancara dkit. tpi rada gagal trus topiknya juga rada" susahh. jdi sampe skrg blum bkin apa apa dee,, maaf ya miss.. ehhehe.

okeii. back to topic. karna sejarah kumpulnya tanggal 16 alias hari inii.. dan hari ini juga ada mid test math.. jdi ga mngkin klo aku bkin satu hri sbelumnaa^^ aku slsaiin dua hari sbelum na de.. karna aku baru mulai dari halaman 9.. jadi.. yaahh.. ga slsai sampe pagi de.. minum kopinya papi sampe 1 kaleng. trus jdi deg degaann.. scara kopi itu mngandung kafein.. memacu detak jantung lebih cepat. aku jdi berenergi. pengen na lari"..triak"..aduu mnyeramkan bgd de.. lain kli..aku gamau minum kopi sampe overdosis gtu.ahaha..

.vika.

makan malamm.

Posted in By vika valianty 2 comments

makan malem kli ini ga enaaakkkk banget. biasanya klo hari minggu di rumah aku tuh beli makan dari luar. trus ditanya sama mami papi mo makan apa.. karna pada bingung-bingung mo makan apa. jadi mami ngajak nyobain fuyung hai yang di seafood 99, yang di gading serpong itu. aku si ayo ayo ajaa. jadi mami beli bawa pulang. sampe di rumah ngajak makan. ternyata fuyung hai nya terbuat dari telor campur tepung kanji.. tepungnya tu bnyak bgd. jadi ENEG aku makannya. aku bener-bener ga nikmatin makanan malem ini. huhu. sedih banget. enegnya lama banget ga ilang-ilang..

sibukk..sibuk.. bikin laporan klompok ga ada yang bantuin. huhuhhhh//....!!! ksell.

.vika.

adukan pada langit.

Posted in By vika valianty 1 comments

13.09.09

ketika aku melihat ke atas
dan mengadukan segalanya kepada langit
kian kucurahkan seisi hatiku
air mata yang tercucur
gambarkan kehancuran yang tersimpan dalam benak
aku tak ingin mengulang kesalahan terdahulu
aku ingin kembali ke masa lalu
dimana setiap keberhasilan dan kebahagiaan
terhidang di depan mata
kuncup yang kini mengatup
kudambakan tuk mekar kembali
tuk pancarkan kembali apa yang bersinar dahulu
mata letih ini sudah tak sanggup lagi
menanggung beban yang ditimpakan
aku ingin membongkar segalanya
dan membuang beban itu
agar mata ini dapat pancarkan sinar
dan bibir ini dapat tersenyum
selalu tersenyum, tanpa air mata..

.vika.
Design by: WPYAG
Blogger Template by Anshul | Funny Pictures.